Rabu, 13 November 2013

Sejarah Aliran Filsafat dan Dampaknya Bagi Kehidupan


Di dalam filsafat segala sesuatunya berpangkal dari sesuatu yang ada. “Ada” mempunyai bermilyar-milyar sifat. Ada yang di dalam dipikiran, ada yang diluar pikiran, ada yang satu, ada yang banyak. Hal tersebut menghasilkan aliran filsafat. Misalkan saja kita ambil satu sifat, ada yang tetap dan ada yang berubah.  Ada yang tetap ini tokohnya adalah Perminides dan ada yang berubah ini tokohnya adalah Heraclitos. Sekarang berfilsafat sudah cukup mudah karena sudah mempunyai alat. Artinya yang tetap, tetap apanya tergantung dari konteks dan yang berubah, berubah apanya tergantung dari konteksnya juga. Berbeda dengan jaman dahulu, mungkin sampai terjadi perkelahian untuk menetukan itu tetap atau itu berubah. Hal tersebut terjadi karena kurang paham atau terlalu sensitive terhadap ruang dan waktu.
Ternyata yang lebih tetap itu adalah apa yang ada di dalam pikiran yaitu ide dan yang berubah itu adalah yang ada di luar pikiran yaitu real (realism). Tokoh yang mendukung bahwa yang ada itu bersifat tetap adalah Plato dan tokoh yang mendukung bahwa yang ada itu bersifat berubah adalah Aristoteles. Kemudian Socrates mungkin tergolong pada pencari yang idealis, mencari yang bisa dipegang secara tetap. sehingga dengan segala variasinya logikanya ke rasio sehingga muncul (rasionalism) sedangkan yang sebaliknya logika ke pegalaman muncul (empirisism).
Kemudian terjadi bentrok yang luar biasa pada abad ke 15-16 antara dua kubu yaitu rasionalism dan empiricism keduanya mengklaim berdasarkan dunianya masing-masing.
“Tiada ilmu kalau tanpa rasio”
“Tiada ilmu kalau tanpa pengalaman”
Masing- masing berebut benar, maka munculah juru damai dan karena dia dimuara maka lengkaplah dia. Dia bisa disebut rasionalism, empiricism, idealism, bisa disebut yang tetap, bisa disebut yang berubah, transendentalis dan seterusnya. Maka Immanuel kant menjadi filsuf yang paling lengkap.
“Menurut Kant ilmu adalah gabungan antara pengalaman (sintetik) dan logika (analitik) sehingga menjadi sintetik apriori. Logika saja tanpa pengalaman adalah kosong, sedangkan pengalaman saja tanpa ilmu adalah buta. Oleh sebab itu hakekat mencari ilmu adalah gabungan antara pengalaman dan logika agar kita tidak menjadi buta dan kosong. Oleh karena itu, matematika murni yang hanya mengandalkan analitik terancam sebagai bukan ilmu (hanya separuh ilmu).”
(http://raodaismail.blogspot.com/, 13 November 2013)
Kemudian sampai pada ledakan filsafat dengan munculnya tokoh antagonis yaitu August Comte. Dia membuat antitesinya filsafat yaitu “go to hell filsafat”. Comte ingin membangun masyarakat maju syaratnya adalah jangan tonjolkan spiritual. Berangkat dari tradisional. Nah, segala macam persoalan saat ini muncul karena fenomena ini, jika spiritualis paham inilah gendering perang yang sudah ditabuh oleh Comte. Tapi sebagian spiritualis tidak paham. Sementara kita punya cit-cita ideal seperti yang tergambar dalam filsafat Prof. Dr. Marsigit, M.A. yaitu material-formal-normative-spiritual (ini adalah yang diinginkan bangsa kita, bangsa Indonesia, bangsa timur yang beragama). Tetapi menurut Comte spiritual itu menghambat kemajuan jaman. Karena sebagian dianggap tidak rasional atau bersifat irasional. Nah, dari sinilah bermunculan berbagai macam ilmu dasar,ilmu-ilmu murni. Di sisi lain muncul juga ilmu humaniora.
Di luar kesadaran kaum spiritual (bangsa timur) keluar dengan karya nyata dari teknologi, dari industry yang dikembangkan lahirlah fenomena tak terkendali yang disebut sang Power Now. Dimana sang power now membangun struktur dunia yang paling bawah arkaik-tribal-tradisional-peodal-modern-post modern-post post modern. Di sini yang tertinggi adalah rasa ingin tahu tak terbatas. Semua diteliti tanpa ada kendali spiritualitas. Bisa dibayangkan susahnya kehidupan sekarang mengibarkan bendera-bendera spiritualism. Maka berbagai macam kejadian yang kontradiktif akan muncul fenomena kehidupan yang tidak imbang dimana dunia timur dengan spiritualism menunjukan ketidak berdayaannya sementara dunia barat dengan powernow_nya menunjukan kedikdayaannya dengan teknologi, ada 5 pilar utama, yaitu :
1.      Neo kapitalism
2.      Neo pragmatism
3.      Neo utilitarian
4.      Neo hedonism
5.      Neo materialism
Hal inilah yang digunakan untuk mengeksploitasi kita. Sehingga akan terjadi fenomen-fenomena kontradiksi, anomaly, kemunafikan, ketidak cocokan, sesuatu yang aneh dan ganjil akan sering terjadi disekitar kita. Misalnya anak kecil seperti orang tua dan sebaliknya orang tua seperti anak kecil. Tidak jauh-jauh sebenarnya masing-masing diri kita sendiri sudah menjadi power now. Contohnya : Kuliah asik lupa sholat, Nonton sesuatu asik lupa berdo’a, dan sebagainya.
Jadi solusinya bagaimana???
Solusinya adalah masih bergaul dengan teknologi namun tetap dengan spiritual, beristigfar tetap mengingat Allah SWT. Karena kita tidak bisa membendung power now. Tatanan Negara tak punya daya (jadi harus mengikuti arus), mau tidak mau jika ingin survive maka teknologi dan spiritual tetap jalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

nuwun 4 ur CoMent