Ada beberapa langkah yang dapat kita lakukan dalam membangun dunia dalam konteks filsafat, di antaranya :
·
Mengidentifikasi tesis-tesis pokok para filsuf dunia.
·
Mengidentifikasi anti-tesis anti-tesis yang dibuat oleh
filsuf lain.
·
Melakukan sintesis oleh diri kita sendiri, dan
·
Menggunakan tesis, anti-tesis, serta sintesis tersebut
untuk membangun dunia.
Dunia Filsafat merupakan sesuatu yang ada dan mungkin ada (pengertian dunia filsafat dalam
pembelajaran filsafat ilmu). Oleh karena itu apa yang kita pikirkan dan tidak
dapat dipikirkan itulah dunia. Apa yang disekitar kita dan diluar lingkungan
kita itulah dunia. Dunia dapat berupa komponen sintesis
dari anti-tesis dan tesis yang terkandung didalamnya. Jikalau ingin membangun
dunia, maka bangunkanlah pikiran kita untuk memikirkan dunia itu.
Segala yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini menempati ruang dan waktunya
masing-masing secara harmonis. Karena setiap unsur di dunia ini telah
diciptakan secara seimbang oleh Sang Maha Pencipta. Dalam sebuah artikel yang
ditulis oleh Oktaviana dimisalkan bahwa, jika separo dunia
itu ontologi,
maka separo dunia yang lain adalah tidak ontologi, jika separo dunia itu adalah epistemologi maka separo dunia yang lain adalah tidak epistemologi,
jika separo dunia itu adalah aksiologi
maka separo dunia yang lain adalah tidak
aksiologi, jika
separo dunia itu adalah vatal maka separo dunia yang
lain adalah fital, jika separo dunia itu
adalah filsafat
maka separo dunia yang lain adalah penerapannya, jika separo dunia adalah
matematika dan pendidikan matematika, maka separo dunia yang lain adalah
penerapannya, jika separo dunia adalah subjek maka separo dunia yng lalin
adalah predikat, jika separo dunia adalah logos, maka separo dunia yang lain
adalah mitos, jika separo dunia adalah apa yang kita pikirkan, maka separo
dunia yang lain adalah apa yang kita lakukan, dan seterusnya.
Dalam “Elegi Pemberontakan Pendidikan
Matematika : Apakah Matematika Kontradiktif ?” juga dijelaskan bahwa, Secara
hakekatnya maka Metode Logika dan Metode Formal yang dikerjakan oleh kaum Logicist-Formalist-Foundationalist
barulah mencakup SEPARO DUNIA, yaitu Dunia yang terbebas dari Ruang dan Waktu.
Sedangkan Separo Dunia lain yang belum disentuh atau belum digarap oleh kaum
Logicit-Formalist-Foundationalis adalah Dunia yang terikat oleh Ruang dan
Waktu. Gabungan kedua Dunia itulah yang
kemudian diperoleh Dunia Seutuhnya atau Hakekat Dunia.
Jadi untuk membangun dunia kita masing-masing secara lengkap, maka kita
harus mengharmonikan segala yang ada dan yang mungkin ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
nuwun 4 ur CoMent